Kamis, 30 Maret 2017

Membaca dan Menulis

Membacalah, niscaya engkau akan mengenal dunia
menulislah, niscaya dunia akan mengenalmu

Senin, 06 Februari 2017

Musim Kemarau Tahun Ini

Penulis: Skylashtar Maryam

Aku selalu menyukai hujan, tapi kali ini hujan menghalangi jalanku pulang. Padahal aku sudah menunggu di ruang tamu, gigil dan kaku. Hujan tidak berhenti sejak tiga hari lalu, semakin deras dan keras. Tubuhku kian getas.
“Bagaimana ini? Hujan turun terus, banjir di mana-mana,” keluh Bapak.
“Apa kita paksakan saja, Pak? Kasihan kan si Teteh kalau nunggu lama,” yang ini suara Ibu.
“Jangan …” sahut Mang Casmin, suami bibiku. “Kita tunggu saja, semoga hujan cepat berhenti.”
Aku selalu menyukai hujan, tapi kali ini hujan menghalangi jalanku pulang. Keluargaku enggan mengantar kepulanganku. Karena hujan.
***
Mereka berbondong-bondong memenuhi halaman rumahku, menginjak-injak rumpun melati yang aku tanam dengan susah payah. Ember-ember yang mereka bawa menyenggol pot-pot kuping gajah hingga nyaris tumpah. Sialan! Orang-orang sialan!
Sementara aku berdiri menangkup tangan di dada, tangan Bapak masih cekatan memegangi selang air, mengisi ember-ember kosong yang dibawa orang-orang kampung. Mulut Bapak menyunggingkan senyum demi senyum, sesekali tertawa dan bersenda gurau dengan kawan sebaya. Ibu sendiri sibuk menyiapkan teh manis dan opak dalam toples-toples besar.
Satu per satu ember penuh diangkut, kemudian diganti dengan ember-ember kosong yang di mataku seperti antrian setan-setan. Bagaimana tidak, mereka, orang-orang yang sedang berduyun mengantri air sambil menyeruput  teh manis dan mengunyah opak itu benar-benar tidak tahu malu.
Dari pagi sampai sore, ada saja orang yang datang meminta air di rumah kami. Bukan seember dua ember, melainkan berember-ember, bahkan beberapa dari mereka membawa jerigen besar.
“Ini musim kemarau yang sangat panjang, Teh. Sumur-sumur tetangga kita sudah kering sementara sumur kita masih memiliki air. Biarkan saja mereka meminta air di sini,” bela Ibu ketika aku protes.
“Emangnya pompa air itu tidak pakai listrik, Bu? Memangnya siapa yang bayar listrik? Saya kan Bu. Saya yang bekerja membanting tulang untuk membayar tagihan listrik yang pasti besar bulan ini,” bibirku mengerucut.
“Nanti juga ada rezekinya, Teh,” masih kata Ibu sembari tangannya sibuk menyodorkan toples-toples kepada orang-orang semakin ramai berdatangan.
“Ada rezekinya gimana? Mereka nggak bayar, kan? Enak aja! Maunya gratisan. Di kota air itu dijual, Bu. Coba kalau Ibu sama Bapak jual juga. Kan lumayan untuk bayar listrik,” aku masih menggerutu.
Ya, ini jaman ketika berbagai benda diperjualbelikan. Tidak terkecuali air. Orang-orang ini enak-enakan saja meminta air tanpa memikirkan biaya listrik. Sementara aku pasti harus mengalokasikan dana lebih banyak untuk biaya listrik bulan ini. Gajiku memang cukup besar, tapi kalau begini caranya, aku bisa batal membeli sepatu bermerk yang aku incar sejak dua bulan lalu. Sialan! Orang-orang sialan!
Hari Mingguku hancur seketika. Padahal aku ingin sekali lesehan di kamar, menikmati musik dan membaca buku setelah sepanjang minggu berkutat dengan dokumen-dokumen kantor dan teriakan buyer. Tapi bagaimana aku bisa santai jika di halaman rumah ribut sekali. Beberapa orang tetangga malah bolak-balik ke kamar mandi, numpang mandi, ada juga yang numpang mencuci.
Aarrggghh… menyebalkan.

Selasa, 27 Desember 2016

Mari Pulang, CINTA

Mari pulang cinta,
ke gubuk kita
Tempat menenun kasih,
Tempat berbagi tawa,dan memadu air mata
Tempat saling pinjam pundak,
dan berebut  mengangsurkan peluk

Mari pulang Cinta,
Ke rumah yg bagai kutub penyejuk damai hati
Tempat senyummu menyambut segala penat....
"masuklah, berselimut ,rehat.."

Ke rumah yg bagai mentari penyala jiwa berapi
Tempat senyummu menyengat ruh dan menggugat...
"keluarlah, dakwah, jihad..."

SAF

Jumat, 23 Desember 2016

Tetaplah menjaga, walau rasa INGIN itu BERTERUS

Bisa jadi,
ada yang diam diam mengagumimu,
memikirkanmu dalam senyap,
membayangkan kemungkinan mengahadapi masa depan bersamamu,
lalu saat rasa itu meluap
padamu ia tiba-tiba muncul, chat, miscall apapun itu,
begitupun sebaliknya rasamu pada seseorang, bisa jadi sama bahkan  lebih gila

tak ada yang dapat memaksakan perasaan
yang terpenting adalah tetap menjaga pada hal yang Allah sukai saja
tidak memberi harapan jika belum siap, pun tidak memaksa pada skenariomu saja
berat , tapi munculkan yakin bahwa Allah tidak pernah ingkar janji,
ada yang terhormat untuk yang terhormat,
ada yang suci untuk yang senantiasa ingin membersihkan dirinya,


Kuncinya
jangan pernah memaksa Allah untuk memberikan sesuatu kepada kita,
Karena Dia yang tau seluruh jalan cerita
sedang kita sering berkesimpulan pada satu scene saja,


#CatatanMasaDoeloe


ah sudah lama sekali

Minggu, 18 Desember 2016

*KANTONG YG BOCOR!!*



*الشريم إمام الحرم المكي في خطبته يقول* :
Imam masjid Asyuraim Al - Harram, Syeikh Almakki dalam khutbah Jum'atnya menyampaikan :

إحذروا *الكيس المثقوب*

*Hati-hati dengan kantong yg bocor*

" تتوضأ أحسن وضوء " لكــن. .. تسرف في الماء' *كيس مثقْوب*

Engkau telah berwudhu dgn sebaik2 wudhu akan tetapi engkau boros memakai air, (itu sama dengan)
*kantong bocor*

" تتصدق عَلى الفقراء بمبلغ ثم .. تذلهم وتضايقهم *كيس مثقْوب.

Engkau bersedekah kepada fakir miskin kemudian, engkau menghina dan menyulitkan mereka, (itu seperti)
 *kantong bocor*

تقوم الليل وتصوم النهار وتطيع ربك" لكــن. .. قاطع الرحم *كيس مثقْوب*