Lagi, bahkan ini sudah yang ke tiga kali dalam Minggu ini. Sejak di luar rumah aku memang telah mencium bau tak sedap yang mengusik indra penciumanku.
Benar saja, sama seperti kemarin dan kemarin, selalu seperti ini. Ibu, lebih tepatnya ibu mertuaku buang air besar di ruang tamu.
Aku menatap suami tajam, rasanya ingin mengeluh, namun kutahan ketika kedua netranya berkaca dan menatapku seolah memohon maaf.
Aku menghela napas panjang. "Mas cari saja ibu dan bersihkan, biar aku yang membersihkan kotoran di sini," ucapku datar. Suami mengangguk dan segera menuju kamar ibu.
Aku dan suami adalah pegawai swasta yang bekerja dari pagi hingga sore. Lelah, itu lah yang kurasa setiap pulang ke rumah, namun semua terasa semakin berat ketika enam bulan yang lalu mertua memutuskan ikut tinggal bersama kami.
Kamis, 13 Februari 2020
Senin, 29 Juli 2019
BERBUAT BAIKLAH, MESKI SEDANG SEMPIT...
Seorang wanita kaya raya berdiri di tepi jalan
akibat mobil mewahnya tiba-tiba mogok tak bisa berjalan.
Berulang kali ia memberi tanda dengan tangannya,
namun tak ada yang berkenan hati menyinggahinya.
Waktu terus berjalan...
Dan rintik hujan mulai menetes jatuh.
Hatinya semakin cemas,
karena gelap malam mulai menyelimuti.
Hingga tiba-tiba saja...
Sebuah mobil tua yang kusam berhenti.
Tepat di sisi Sang Nyonya kaya itu.
Di belakang kemudi,
tampaklah sesosok pemuda berkulit gelap.
Wanita itu menatapnya, dan menatap mobil tuanya.
Wanita itu ragu, sungguh ragu:
apakah ia ikut menumpang,
atau tetap menunggu di tepi jalan yang mulai gelap itu?
Nyonya kaya itu bimbang dan ragu,
pasalnya ia mengira semua orang tahu kekayaan dan harta bendanya...
Tapi akhirnya,
ia putuskan sudah.
Ia menaiki mobil tua itu, dan menumpanginya.
Dalam perjalanan itu,
Sang Nyonya kaya menanyakan nama dan pekerjaan anak muda itu.
Anak muda yang tampak payah dalam kemiskinannya.
“Namaku Adam.
Dan pekerjaanku adalah sopir taksi,” jawab anak muda itu.
Wanita itu sedikit lebih tenang sekarang.
Dalam hatinya, ia sedikit mengutuk diri,
agak menyesali buruk sangkanya seawal tadi.
Sekarang tampak padanya:
betapa anak muda itu sopan dan santun,
hingga bahkan tak melirik sedikit pun padanya.
Singkat cerita,
mereka pun tiba di kota.
Dalam hatinya,
Sang Nyonya kaya itupun telah berniat akan memberikan seberapa besar pun upah
yang diminta pemuda itu.
Sang Nyonya pun meminta sopir taksi itu berhenti.
Taksi itupun berhenti.
“Berapa upahnya, Anak muda?”
“Tidak usah, Nyonya...”
“Tidak usah??!
Mana mungkin? Engkau telah menolongku, dan mengantarku dengan selamat...”
Adam, anak muda itu tersenyum sahaja.
“Upahku adalah Nyonya berjanjilah untuk melakukan kebaikan kepada siapa saja yang Nyonya temui...”
Adam, sopir taksi itupun berlalu,
meninggalkan Sang Nyonya dalam kebisuannya...
akibat mobil mewahnya tiba-tiba mogok tak bisa berjalan.
Berulang kali ia memberi tanda dengan tangannya,
namun tak ada yang berkenan hati menyinggahinya.
Waktu terus berjalan...
Dan rintik hujan mulai menetes jatuh.
Hatinya semakin cemas,
karena gelap malam mulai menyelimuti.
Hingga tiba-tiba saja...
Sebuah mobil tua yang kusam berhenti.
Tepat di sisi Sang Nyonya kaya itu.
Di belakang kemudi,
tampaklah sesosok pemuda berkulit gelap.
Wanita itu menatapnya, dan menatap mobil tuanya.
Wanita itu ragu, sungguh ragu:
apakah ia ikut menumpang,
atau tetap menunggu di tepi jalan yang mulai gelap itu?
Nyonya kaya itu bimbang dan ragu,
pasalnya ia mengira semua orang tahu kekayaan dan harta bendanya...
Tapi akhirnya,
ia putuskan sudah.
Ia menaiki mobil tua itu, dan menumpanginya.
Dalam perjalanan itu,
Sang Nyonya kaya menanyakan nama dan pekerjaan anak muda itu.
Anak muda yang tampak payah dalam kemiskinannya.
“Namaku Adam.
Dan pekerjaanku adalah sopir taksi,” jawab anak muda itu.
Wanita itu sedikit lebih tenang sekarang.
Dalam hatinya, ia sedikit mengutuk diri,
agak menyesali buruk sangkanya seawal tadi.
Sekarang tampak padanya:
betapa anak muda itu sopan dan santun,
hingga bahkan tak melirik sedikit pun padanya.
Singkat cerita,
mereka pun tiba di kota.
Dalam hatinya,
Sang Nyonya kaya itupun telah berniat akan memberikan seberapa besar pun upah
yang diminta pemuda itu.
Sang Nyonya pun meminta sopir taksi itu berhenti.
Taksi itupun berhenti.
“Berapa upahnya, Anak muda?”
“Tidak usah, Nyonya...”
“Tidak usah??!
Mana mungkin? Engkau telah menolongku, dan mengantarku dengan selamat...”
Adam, anak muda itu tersenyum sahaja.
“Upahku adalah Nyonya berjanjilah untuk melakukan kebaikan kepada siapa saja yang Nyonya temui...”
Adam, sopir taksi itupun berlalu,
meninggalkan Sang Nyonya dalam kebisuannya...
Kamis, 20 Juni 2019
π’ MODAL SUKSES π’
Ada teman bertanya kepada saya, sebaiknya kita bekerja sehari berapa jam jika ingin cepat sukses?
Jawaban saya sederhana :
KITA SAMA.... semua diberikan waktu sehari 24 Jam.
Ada orang yang dengan 24 Jam nya bisa mengelola bisnis bisnisnya, mengelola keluarganya dengan baik, masih ditambah aktivitas sosialnya di masyarakat juga jalan....
Ada juga orang yang sama memiliki 24 jam tapi untuk mengurus dirinya sendiri tidak becus.
Modal kita untuk Sukses sama, ada yang menggunakan sebaik2nya, ada yang buang buang waktu.
Mau melihat orang Sukses? Lihat cara dirinya menggunakan Waktunya.
Dalam Teory 48+ menyimpulkan, jika kita bekerja sehari 8 jam dan seminggu 48 jam, maka HASILNYA hanya cukup untuk BERTAHAN HIDUP.
Jika ingin SUKSES maka kita harus berikan PLUS pada jam kerja kita. Semakin banyak plus maka semakin cepat sukses. Rata rata orang kaya memberikan waktu ke bisnisnya 10-15 jam sehari.
Ini Rumus sederhana.
Kalau mau kaya, berapa jam yang di berikan untuk bisnis?
Kalau mau Hapal Quran, berapa jam yang diberikan untuk Quran?
Kalau mau tubuh nya In shape dan perutnya six pack, berapa jam yang diberikan untuk olah raga?
Sederhana kan?
Untuk apa waktu kita diluangkan, itulah yang akan kita dapatkan.
Tentukan Goal, lalu berikan waktu untuk Goal kita.
Kamis, 30 Mei 2019
SAMA SAJA
Di usia 40 tahun,
"PENDIDIKAN TINGGI DAN PENDIDIKAN RENDAH, SAMA SAJA".
(Yang penting berpenghasilan)
Di usia 50 tahun
"CANTIK DAN JELEK, SAMA SAJA".
(Seusia ini seberapa cantik pun kita, kerutan, darkspot, kulit kendur, tak bisa terus kita sembunyikan dengan Gincu dan bedak). π
Di usia 60 tahun.
"POSISI TINGGI DAN POSISI RENDAH, SAMA SAJA".
(Setelah semua pensiun, tak perlu lagi menghindari boss).
Di usia 70 tahun
"RUMAH BESAR DAN RUMAH KECIL, SAMA SAJA".
(Tulang sendi lutut dan kaki semakin sulit untuk bergerak; kita cuma butuh ruang kecil untuk bisa duduk) π
Di usia 80 tahun
"PUNYA UANG DAN TIDAK PUNYA UANG, SAMA SAJA" .
(Ada uang pun tak bisa lagi beli makanan enak steak, gulai, rendang, dll, karena perut kita tak bisa lagi dimasuki bermacam makanan, Lidah sudah tak punya rasa,
dan kita tak bisa lagi ke tempat di mana bisa belanja menghabiskan uang) π€¨
Di usia 90 tahun
"TIDUR DAN BANGUN, SAMA SAJA",
(karena setelah bangun, kita sama.tidak tahu apa yg akan kita lakukan) π
Di ajal menjemput
"KAYA DAN MISKIN, SAMA SAJA".
(Kita hanya membawa 1 lembar kain kafan ke dalam tanah yang ukurannya sama;
orang2 menangisi kemudian lupa,
karena mereka pun akan dipenuhi persoalan hidupnya masing-masing) πͺ
Jadi, selagi hidup jangan tinggi hati dengan apa yang kita punya,
kita akan berakhir SAMA.
Jangan terlalu Keras cari uang
karena akhirnya semua kita lepaskan
Jadi, nikmati saja hidup damai dengan orang orang yang kita sayangi...
πππMet menunaikan ibadah puasa di akhir Ramadhan semoga barakallah... Aamiin3x yra ππ
"PENDIDIKAN TINGGI DAN PENDIDIKAN RENDAH, SAMA SAJA".
(Yang penting berpenghasilan)
Di usia 50 tahun
"CANTIK DAN JELEK, SAMA SAJA".
(Seusia ini seberapa cantik pun kita, kerutan, darkspot, kulit kendur, tak bisa terus kita sembunyikan dengan Gincu dan bedak). π
Di usia 60 tahun.
"POSISI TINGGI DAN POSISI RENDAH, SAMA SAJA".
(Setelah semua pensiun, tak perlu lagi menghindari boss).
Di usia 70 tahun
"RUMAH BESAR DAN RUMAH KECIL, SAMA SAJA".
(Tulang sendi lutut dan kaki semakin sulit untuk bergerak; kita cuma butuh ruang kecil untuk bisa duduk) π
Di usia 80 tahun
"PUNYA UANG DAN TIDAK PUNYA UANG, SAMA SAJA" .
(Ada uang pun tak bisa lagi beli makanan enak steak, gulai, rendang, dll, karena perut kita tak bisa lagi dimasuki bermacam makanan, Lidah sudah tak punya rasa,
dan kita tak bisa lagi ke tempat di mana bisa belanja menghabiskan uang) π€¨
Di usia 90 tahun
"TIDUR DAN BANGUN, SAMA SAJA",
(karena setelah bangun, kita sama.tidak tahu apa yg akan kita lakukan) π
Di ajal menjemput
"KAYA DAN MISKIN, SAMA SAJA".
(Kita hanya membawa 1 lembar kain kafan ke dalam tanah yang ukurannya sama;
orang2 menangisi kemudian lupa,
karena mereka pun akan dipenuhi persoalan hidupnya masing-masing) πͺ
Jadi, selagi hidup jangan tinggi hati dengan apa yang kita punya,
kita akan berakhir SAMA.
Jangan terlalu Keras cari uang
karena akhirnya semua kita lepaskan
Jadi, nikmati saja hidup damai dengan orang orang yang kita sayangi...
πππMet menunaikan ibadah puasa di akhir Ramadhan semoga barakallah... Aamiin3x yra ππ
Rabu, 29 Mei 2019
Karyawan Yang Pengusaha
π·
*Karyawan yang Pengusaha*
Katanya jadi karyawan itu, gak bisa kaya.
Gak punya waktu luang. Terjebak dengan rutinitas. Dan tak punya kebebasan finansial.
Katanya jadi pengusaha itu sebuah pencapaian menuju kaya.
Punya banyak waktu luang, bisa kerja dari mana saja. Dan merasa keren dengan status sosial.
Jadi karyawan atau pengusaha bukan hanya sebuah pencapaian.
Tapi sebuah pilihan.
Keduanya punya peran masing-masingnya. Tergantung purpose of life yang dimiliki.
Andai keduanya bisa merasakan dan memahami peran masing-masingnya, tak akan banyak dari kita yang termakan omongan motivator abal-abal, yang selalu berdalih resign adalah jalan terbaik.
Dan menjadi karyawan kasta sudra adalah sebuah kenestapaan.
Atau mungkin kita pernah termakan jargon-jargon:
"Kerja gak harus ngantor, tapi bisa pakai kolor",
"Kerja harus sesuai passion", "Jangan jadi budak korporat",
"Lebih baik jadi kepala semut, daripada ekor naga",
"Ngapain kerja kalau untuk mengkayakan ownernya",
"Lembur terus, situ kerja apa dikerjain?"
*Karyawan yang Pengusaha*
Katanya jadi karyawan itu, gak bisa kaya.
Gak punya waktu luang. Terjebak dengan rutinitas. Dan tak punya kebebasan finansial.
Katanya jadi pengusaha itu sebuah pencapaian menuju kaya.
Punya banyak waktu luang, bisa kerja dari mana saja. Dan merasa keren dengan status sosial.
Jadi karyawan atau pengusaha bukan hanya sebuah pencapaian.
Tapi sebuah pilihan.
Keduanya punya peran masing-masingnya. Tergantung purpose of life yang dimiliki.
Andai keduanya bisa merasakan dan memahami peran masing-masingnya, tak akan banyak dari kita yang termakan omongan motivator abal-abal, yang selalu berdalih resign adalah jalan terbaik.
Dan menjadi karyawan kasta sudra adalah sebuah kenestapaan.
Atau mungkin kita pernah termakan jargon-jargon:
"Kerja gak harus ngantor, tapi bisa pakai kolor",
"Kerja harus sesuai passion", "Jangan jadi budak korporat",
"Lebih baik jadi kepala semut, daripada ekor naga",
"Ngapain kerja kalau untuk mengkayakan ownernya",
"Lembur terus, situ kerja apa dikerjain?"
Langganan:
Postingan (Atom)