Senin, 03 Juli 2017

Pursuing Plane at the Airport

Sekedar Renungan Di bandara, 
saya melihat hampir semua orang melangkah cepat, bahkan ada yang berlarian karena takut ketinggalan pesawat. Semua orang rela bangun lebih pagi dari biasanya agar tidak ketinggalan pesawat. Apa yang menjadi alasan orang-orang ini takut ketinggalan pesawat? Jawaban rata-rata adalah soal uang. Mereka tidak ingin tiketnya hangus begitu saja. Mereka beralasan karena ada rapat penting yang tidak bisa ditunda, keperluan keluarga, dan sebagainya. Namun, rata-rata beralasan karena takut tiketnya hangus. Melihat kenyataan ini, saya mencoba bercermin pada diri sendiri yang baru saja ikut terlibat dalam kegiatan ‘mengejar pesawat’ karena takut tiket hangus. 

Saya berpikir, apakah perjuangan saya untuk mengejar sholat sudah sebesar ini? Apakah saya rela bersiap 2 jam sebelum waktu sholat karena takut pahala sholat tepat waktu saya hangus? Mungkin ini juga bisa jadi bahan renungan untuk kawan-kawan semua. Padahal, berapa sih harga tiket? Apalagi sekarang harga tiket pesawat sudah semakin murah. Bahkan saya sering dapat tiket promo dengan kisaran harga 300 – 500 ribu. Tentunya harga segitu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nilai pahala sholat. 

Tapi nyatanya? Perjuangan kita mempertahankan tiket lebih besar dibanding-kan dengan perjuang-an untuk sholat tepat waktu. Kalo tiket hangus, galaunya luar biasa. Cerita ke semua orang, update status di social media. Sedangkan saat tertinggal sholat berjamaah ? Biasa aja tuh. Innalillah. 

Rasulullah SAW bersabda :
 “Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.” (HR. Muslim No.725)

 Berdasarkan hadits tersebut, Rasulullah SAW dengan tegas menga-takan betapa mahal-nya ‘harga’ dari sholat dua rakaat sebelum sholat subuh atau yang kita kenal dengan sholat sunnah Fajr. Bahkan sholat tsb lebih baik dari dunia dan seluruh isinya. Tapi apakah kita menyesal saat sholat Fajr kita hangus ? Relakah kita bangun lebih awal demi mengejar sholat sunnah Fajr seperti saat kita mengejar pesawat karena takut tiket kita hangus ? Tentunya hal ini harus benar-benar jadi renungan bagi kita. Selain hadits yang menjelaskan tentang betapa mahalnya sholat Fajr, 

Rasulullah  SAW juga pernah bersabda : “Barangsiapa kehilangan shalat Ashar, seolah-olah ia kehilangan keluarga dan hartanya.” (HR. Muslim) 

Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan ‘harga’ dari sholat Ashar. Begitu mahalnya nilai sholat Ashar, Rasulullah SAW sampai mengumpamakan bahwa seseorang yang sholat Asharnya ‘hangus’, maka ia seolah-olah telah kehilangan keluarga dan hartanya. MasyaAllah. Semoga kita dapat lebih menghargai sholat. Usahakan ontime, sama halnya seperti saat kita mengejar pesawat. 

 Untuk bahan renungan, terutama untuk diri sendiri 🙏

Selasa, 06 Juni 2017

Mengenang wafatnya Bunda Khadijah.

*MENGENANG WAFATNYA UMMUL MUKMININ SAYYIDAH KHODIJAH AL KUBRO (Wafat 10 RAMADHAN tahun 10 Kenabian)*

DETIK-DETIK WAFATNYA SITI KHADIJAH, ISTRI TERCINTA RASULULLAH.

Siti Khadijah adalah istri pertama Rasulullah. Orang yang pertama kali beriman kepada ALLAH dan kenabian Rasulullah. Orang yang sangat berjasa bagi dakwah Rasulullah dan penyebaran agama Islam.

Siti Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadlan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun.

PERMINTAAN TERAKHIR

Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,

Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu

Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik,

Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.

Mendengar itu Rasulullah berkata,

Wahai Khadijah, ALLAH menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.

Ummul mukminin, Siti Khadijah pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya istri Beliau itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Beliau dan semua orang yang ada disitu.

Jumat, 07 April 2017

*Instrospeksi diri*

*Assalamualaikum,*


Sejatinya,
Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya.

Digulung hari demi hari, bulan, dan tahun tanpa terasa.

Nafas terus berjalan seiring jalannya waktu,

setia menuntun kita ke pintu kematian...

Sebenarnya dunialah yang makin kita jauhi, dan liang kuburlah yang makin kita dekati.

Kamis, 30 Maret 2017

Membaca dan Menulis

Membacalah, niscaya engkau akan mengenal dunia
menulislah, niscaya dunia akan mengenalmu

Senin, 06 Februari 2017

Musim Kemarau Tahun Ini

Penulis: Skylashtar Maryam

Aku selalu menyukai hujan, tapi kali ini hujan menghalangi jalanku pulang. Padahal aku sudah menunggu di ruang tamu, gigil dan kaku. Hujan tidak berhenti sejak tiga hari lalu, semakin deras dan keras. Tubuhku kian getas.
“Bagaimana ini? Hujan turun terus, banjir di mana-mana,” keluh Bapak.
“Apa kita paksakan saja, Pak? Kasihan kan si Teteh kalau nunggu lama,” yang ini suara Ibu.
“Jangan …” sahut Mang Casmin, suami bibiku. “Kita tunggu saja, semoga hujan cepat berhenti.”
Aku selalu menyukai hujan, tapi kali ini hujan menghalangi jalanku pulang. Keluargaku enggan mengantar kepulanganku. Karena hujan.
***
Mereka berbondong-bondong memenuhi halaman rumahku, menginjak-injak rumpun melati yang aku tanam dengan susah payah. Ember-ember yang mereka bawa menyenggol pot-pot kuping gajah hingga nyaris tumpah. Sialan! Orang-orang sialan!
Sementara aku berdiri menangkup tangan di dada, tangan Bapak masih cekatan memegangi selang air, mengisi ember-ember kosong yang dibawa orang-orang kampung. Mulut Bapak menyunggingkan senyum demi senyum, sesekali tertawa dan bersenda gurau dengan kawan sebaya. Ibu sendiri sibuk menyiapkan teh manis dan opak dalam toples-toples besar.
Satu per satu ember penuh diangkut, kemudian diganti dengan ember-ember kosong yang di mataku seperti antrian setan-setan. Bagaimana tidak, mereka, orang-orang yang sedang berduyun mengantri air sambil menyeruput  teh manis dan mengunyah opak itu benar-benar tidak tahu malu.
Dari pagi sampai sore, ada saja orang yang datang meminta air di rumah kami. Bukan seember dua ember, melainkan berember-ember, bahkan beberapa dari mereka membawa jerigen besar.
“Ini musim kemarau yang sangat panjang, Teh. Sumur-sumur tetangga kita sudah kering sementara sumur kita masih memiliki air. Biarkan saja mereka meminta air di sini,” bela Ibu ketika aku protes.
“Emangnya pompa air itu tidak pakai listrik, Bu? Memangnya siapa yang bayar listrik? Saya kan Bu. Saya yang bekerja membanting tulang untuk membayar tagihan listrik yang pasti besar bulan ini,” bibirku mengerucut.
“Nanti juga ada rezekinya, Teh,” masih kata Ibu sembari tangannya sibuk menyodorkan toples-toples kepada orang-orang semakin ramai berdatangan.
“Ada rezekinya gimana? Mereka nggak bayar, kan? Enak aja! Maunya gratisan. Di kota air itu dijual, Bu. Coba kalau Ibu sama Bapak jual juga. Kan lumayan untuk bayar listrik,” aku masih menggerutu.
Ya, ini jaman ketika berbagai benda diperjualbelikan. Tidak terkecuali air. Orang-orang ini enak-enakan saja meminta air tanpa memikirkan biaya listrik. Sementara aku pasti harus mengalokasikan dana lebih banyak untuk biaya listrik bulan ini. Gajiku memang cukup besar, tapi kalau begini caranya, aku bisa batal membeli sepatu bermerk yang aku incar sejak dua bulan lalu. Sialan! Orang-orang sialan!
Hari Mingguku hancur seketika. Padahal aku ingin sekali lesehan di kamar, menikmati musik dan membaca buku setelah sepanjang minggu berkutat dengan dokumen-dokumen kantor dan teriakan buyer. Tapi bagaimana aku bisa santai jika di halaman rumah ribut sekali. Beberapa orang tetangga malah bolak-balik ke kamar mandi, numpang mandi, ada juga yang numpang mencuci.
Aarrggghh… menyebalkan.