Kamis, 23 Juli 2015

For Teachers

Dapat pencerahan dr Sahabat....ingin kubagi kepada Saudara2ku di group😘

TAUSYIAH PRIBADI
(Utk Orangtua & Guru)

“30 TAHUN MENDATANG ANAK KITA”

Oleh: M. Fauzil Adhim

Jangan remehkan dakwah kpd anak-anak! Jika tlah terikat hatinya dgn Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau gembleng mereka u siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala2 yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.

Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus, tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.

Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apa pun yang engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30 40 tahun yang akan datang. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umat sedang engkau pertaruhkan!!! Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.

Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun ini sama sekali tidak kita inginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi pada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal?

Maka..., ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada.

Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan umat. Urusan dakwah.” Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun. Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.

Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.

Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.

Ingatlah hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallamsebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,” Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!” (HR. Bukhari).

Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal semata-mata. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya atas amanah yang engkau emban saat ini.

Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yang Allah Ta'ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.

Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknya agar engkau semaikan iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyak istighfar. Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu. Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenah menata niat dan menelisik kesalahan diri kalau-kalau ada yang menyimpang dari tuntunan-Nya. Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.

Wahai Para Guru, sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yang paling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yang mungkin akan terjadi. Ada yang lebih perlu engkau tangisi dengan kesedihan yang sangat mendalam. Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, di masa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.

Ajarilah anak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan. Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan. Tumbuhkan pada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya. Tanamkan adab dalam diri mereka. Tumbuhkan pula dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah. Bukan menyibukkan mereka dengan kebanggaan atas dunia yang ada dalam genggaman mereka.

Ingatlah do’a yang kita panjatkan:

"اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ"

“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”

Inilah do’a yang sekaligus mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh persepsi kita. Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yang keliru. Demikian pula kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenaran karena kita memilih untuk melihat segi positifnya. Maka, kepada Allah Ta’ala kita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh persepsi sendiri.

Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yang haq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif. Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yang memikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuh gebyar. Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripada sekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar. Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.

Senin, 15 Juni 2015

Habit of Succesful Person



Pernah bertanya mengapa Bill Gates atau Steve Jobs bisa menjadi begitu kaya dan membeli apa saja...???

Semua hasil yang dinikmati orang² hebat dan ternama itu bukan datang secara instant lho,,,. Kata orang, salah satu kunci kesuksesan adalah melakukan beberapa kebiasaan² yang baik. Dan, para pesohor yang sukses, selalu melakukan hal ini sebelum meraih kesuksesannya.

BANGUN PAGI.

Ingin sukses...???
Ya harus bangun pagi...!!!
Jangan buang waktu dan terlambat dalam segala hal. Anda harus tahu semua hal lebih awal daripada orang lain. Banyak kok orang hebat yang berusaha bangun lebih pagi untuk sekedar mencari informasi dan membaca berita² update tentang hal yang terjadi di sekitar. Mereka menambah informasi dan pengetahuan demi sebuah hasil yang kelak akan dipetiknya.

ADA PASSION DALAM PROFESI.

Bekerja bukan hanya sekedar mengemban tanggung jawab dan menyelesaikan sebuah hal sesuai dengan job desc. Tetapi bekerja haruslah disertai dengan passion yang akan membantu membawa seseorang pada suatu tingkat yang ingin ia capai.

NETWORKING ITU PENTING.

Selalu kembangkan networking di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Anda harus tetap ramah dan low profile. Rangkul semua orang yang baru saja Anda kenal, karena Anda tak akan pernah tahu kapan Anda akan membutuhkan mereka.

PENGETAHUAN SUMBER KEKUATAN.

Apabila Anda berhasil bangun pagi dan meluangkan waktu lebih banyak lagi, jangan sia²kan dengan berleha² dan hanya sekedar menikmati sarapan pagi. Kuncinya adalah membaca dan membaca. Cari tahu banyak hal tanpa terkecuali.

Karena pengetahuan adalah hal yang sangat penting, maka jangan enggan untuk belajar hal² baru dan melunakkan keras kepalanya Anda. Serap informasi dari mana saja dan tampung untuk kemudian dipilah mana yang bermanfaat dan mana yang tidak.

MENGATUR WAKTU.

Tak ada orang sukses yang bekerja serampangan dan tanpa disiplin waktu. Semua orang sukses tahu benar bagaimana memanfaatkan waktu, dan sangat menghargai waktu. Untuk itu, pastikan Anda punya schedule tersendiri yang akan membantu Anda mengatur waktu dan melakukan banyak hal tanpa terlewatkan.

NO PAIN, NO GAIN.

Tak ada keberhasilan yang diraih tanpa pernah jatuh dan terluka terlebih dahulu. Setiap orang yang sukses pasti pernah menghadapi kegagalan. Dan sebaiknya menghadapi kegagalan tersebut haruslah dengan sikap yang legawa serta mau belajar dari kegagalan.

PERFEKSIONIS.

Sudah selayaknya seseorang yang ingin sukses selalu menjadi sosok yang perfeksionis. Ia akan menginginkan segala hal berjalan dengan sangat baik dan nyaris sempurna. Ia benar² berusaha agar semuanya tidak ada yang terlewat dan sampai gagal.

Ini semua Simple, tapi perlu perjuangan untuk mengaplikasikanya..


(Shared from FB)

Jumat, 05 Juni 2015

Imperfection That Make Perfect




in your life, there are many imperfection from peoples arround you
but in fact, when you realize, that imperfections has make your life perfect.
a little bad case, sometimes will make you miss and know it in the future that the thing is a sign of your partner existing near you. and they are there for you.
not only couple, but also families, neighbors and friends.
so, let's learn how to appreciate each other, beacause no perpection without imperpection.

Kamis, 04 Juni 2015

Jangan pernah kehilangan cita-cita Menjadi Ahlul Quran


Kita semua pernah punya mimpi.

Punya cita-cita.

Menjadi penghafal Qur'an.

Menjadi penjaga Al-Qur'an.

Menjadi Ahlul Qur'an.

Datang dengan agak malu-malu ke halaqoh karena ingin bisa. Tapi sungkan juga karena merasa belum bisa.

Ingin kayak mereka, menjadi hafizh Qur'an.

Lalu datang tiap pekan.

Membaca Al-Qur'an menjadi nikmat. Hati menjadi lapang. Dan mimpi pun mulai terjalin. Janji mulai tercipta...

Ingin menjadi penghafal Al-Qur'an. Ingin menjadi ahlul Qur'an.

Lalu waktu terus berjalan. Belajar menjadi keharusan. Jadwal rutin ditetapkan. Baca Al-Qur'an dirutinkan.

Meski kemudian mulai berlomba dengan kesibukan...

Kalau tidak bertahan, mimpi akan terkikis pelan-pelan. Lalu lama-lama pudar. Akhirnya menyerah oleh keadaan.